Mengapa Percobaan di Labolatorium memakai Tikus?


Percobaan - percobaan di labolatorium selalu menggunakan tikus. Entah itu tikus putih atau hitam tapi yang pasti lebih dari 90% labolatorium menggunakan tikus sebagai media percobaan. Tapi kenapa seperti itu? Kenapa tidak hewan lain saja? Mari kita bahas di artikel kali ini.

Tikus adalah mamalia. Tikus memiliki struktur dan organ dalam yang hampir sama dengan manusia. Bahkan, suhu tubuh tikus sama seperti manusia [36,5°C]. Tikus juga bisa mengidap penyakit seperti tekanan darah, kanker, obesitas, glukosuria, dll, sama seperti manusia.

Lalu, apakah suatu saat tikus akan punah karena hanya untuk media percobaan?

Tidak. Setelah 1 bulan lahir, tikus menjadi dewasa dan setiap 3 minggu bisa melahirkan 8 - 10 ekor anak. Karena reproduksinya demikian cepat maka merupakan suatu keuntungan bila menggunakan tikus sebagai bahan percobaan.

Tetapi, subjek percobaan yang paling bagus adalah gorila. Gorila memiliki sifat genetik yang hampir sama dengan manusia, sehingga bisa mendapatkan hasil percobaan yang lebih tepat. Tetapi sangat sulit untuk berurusan dengan gorila. Badannya yang tinggi besar, sulit untuk diajak kerja sama, dan proses reproduksinya sangat lambat.

Pada percobaan yang dilakukan pada hewan, hewan yang paling banyak digunakan adalah tikus putih. Tetapi tidak hanya tikus putih yang digunakan dalam percobaan. Ada percobaan yang dilakukan pada tikus yang berwarna lain. Tujuan percobaan ini adalah melakukan manipulasi gen untuk menghasilkan spesies baru.
 
Copyright © . Detail dot - Posts · Comments
Theme Template by BTDesigner · Powered by Blogger